0

Cerbung : Dia (Part 3)

Posted by Unknown on 18.46
"Ada apaan sih?" Mendengarku suaraku, mereka semua menengok ke arahku lalu membuka jalan. Semakin aneh. Kulangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Di sana terdapat Billy tengah berlutut, memegang sebuket bunga dengan papan tulis yang telah dihias olehnya dan bertuliskan "I love you Nadine" Aku terpaku. Benar benar terpaku.

"Nadine" Panggilnya lembut. Aku hanya menunduk, menahan malu dan detak jantungku berdebar sangat cepat.

"Can you.. give me one more chance?" Dia mengangkat daguku. Sesaat aku menatap matanya yang berwarna coklat muda itu. Lalu aku memalingkan wajah. Nampaknya, seluruh siswa di sini tengah memandangi kami. Entah mengapa mataku tidak menemukan sosok Ricardo di tengah kerumunan itu.

"Nadine..? I need your answer." Aku masih mematung. Lalu kulihat Ricardo menerobos kerumunan dengan membawa sebuah kotak. Melihat kami sangat dekat, matanya terbelalak.

"Sorry ganggu" Ucapnya sembari pergi meninggalkan kami. Entah apa yang aku pikirkan, aku berlari mengejarnya. Billy mengikutiku dari belakang.

"Nadine!" Billy berteriak - teriak memanggil namaku, namun tak kuhiraukan sama sekali. Hingga akhirnya. mataku berkunang kunang dan kesadaranku mulai hilang. "NADINEE!" Mereka berdua berteriak memanggil namaku, itu hal terakhir yang aku dengar.



------

Perlahan-lahan kubuka mataku. Urghh cahaya apa itu, terang sekali.

"Nadine.." Suara itu tidak asing lagi di telingaku. "Nadine..."

"AYAAHHH?!?!" Teriakku berlari mencari sumber suara.

"Nadine!" Sosok yang kurindukan kembali muncul dihadapanku. Aku berlari lalu memeluknya.

"Nadine kangen ayah" Ucapku sembari meneteskan air mata. Sosok berwibawa itu hanya tersenyum sembari mengelus rambutku. "Ayah.. Nadine udah...?"

"Tidak nak.. kamu belum meninggal. Ibumu membutuhkanmu, kamu bangun ya! Nanti kita ketemu lagi kok. Ayah janji." Dia mengecup keningku lalu berjalan meninggalkanku. "Satu hal lagi, yang sudah lalu biarlah berlalu."


------
"Urgh.. ayah.."

"Nadinee?!?! Kamu sudah sadar nakk?" Ucap ibuku seraya memelukku.

"Ayah..?"

"Ini Ibu, nakk.. Syukurlah kamu sudah sadar." Aku hanya diam seribu bahasa. Di sofa terdapat seorang lelaki tangah tertidur pulas, aku tidak dapat melihat wajahnya. "Makan dulu ya.." Ibuku mengambil nampan makanan. Kumakan secara perlahan lahan karna nafsu makanku hilang. Setelah itu kuambil hpku. Timeline-ku penuh dengan doa semua orang terdekat agar aku segera sadar. Kurasa, aku tidak pingsan sementara. Kupandangi Ibuku, kantung matanya hitam dan matanya membengkak. Penampilannya pun berantakan. Ingin kubertanya namun aku tak kuasa melontarkan kata - kata.

 Aku mengirim sms kepada Alya, "Alya, gue kenapa sih?" Dengan sigap, Alya membalas pesanku. "Puji Tuhan, akhirnya lo sadar. Gue otw ke sana. tunggu ya!" aku membaca pesan itu lalu duduk perlahan-lahan.

Beberapa menit kemudian, seseorang membuka pintu sembari berteriak "NADINEEE!! AKHIRNYA LO SADAR JUGAA!!" Yap, itu Alya. Dia memelukku dengan erat, sembari duduk di dekatku. Bahkan teriakannya membangunkan lelaki tersebut.

"Eh.. Nadine, lo udah sadar? Syukurlah.." Ucap lelaki itu yang ternyata adalah Ricardo."Tante, kok saya gak dibangunin?" Ia duduk lalu memakai kacamatanya kembali.

"Yah, tante gak tega. Tante titip Nadine sebentar ya dek Alya, dek Ricardo. Tante mau ambil barang barang Alya di rumah." Ibuku menyambar tasnya lalu keluar.

"Nadinee, gue kangen sama lo." Alya menggenggam bahuku.

"Gue kenapa sih? Pingsan bentar doang kan?"

"Enggak.. lo koma.. udah masuk hari ke-5. Syukurlah lo udah sadar" Alya kembali memelukku, aku hanya terdiam. Ricardo lalu mengambil handuk dan menuju kamar mandi. "Eh, lo tau ga? Ricardo itu selalu nungguin lo. Pulang sekolah dia langsung ke sini, bawain makanan buat lo dan Ibu lo. Trus lo liat buket bunga di sana? Itu dari dia. Dia bahkan kadang nginep supaya Ibu lo bisa istirahat." Alya bercerita setengah berbisik. "Sedangkan Billy, dia udah jalan tuh sama si Zahra. Peduli? Yaa.. gakjuga sih." Mendengar hal itu air mataku kembali berjatuhan. "Yah elah.. lo tuh harusnya bersyukur tau!"

"Lo nindihin kaki gue. Sakit..." Ucapku perlahan karena tidak ada tenaga.

"Eeeeehh.. sorry sorry gue gatau. hehehe" Aku hanya memasang muka cemberut.

"Ricardo.. beneran nungguin gue terus?" Tanyaku perlahan.

"Iyaa etdahyaakk. Setiap gue di sini pasti ada dia. Dia bener bener sayang sama lo."

"Gue tau kok.."

"Nah.. kalo tau jawaban dari pertanyaan gue waktu di mall itu apa?" Ricardo keluar dari kamar mandi dengan handuk di leher. Aku hanya mengangguk perlahan. Melihatku mengangguk, Ricardo berkata "Well... i wont disapointed you, my lady. I will do my best to make you happy :)" Aku hanya tersenyum. Ricardo mendekat lalu menggenggam tanganku, "Nah.. itu diaa. Akhirnya gue bisa liat senyum lo lagi. Jangan tinggalin kita lagi, ya!" Aku mengangguk lalu tersenyum lebar.

"EHEMM.. MAAF GANGGU TAPI DI SINI MASIH ADA GUE" Aku dan Ricardo tertawa mendengar Alya mengatakan hal tsb.

-----

Hubungan kami berjalan dengan sangat lancar. Ricardo terus-menerus memberi kejutan-kejutan tak terkira yang pasti membuatku bahagia. Billy? Ah lupakan pria itu. Aku sudah muak mendengarnya. Pesanku, ketika Tuhan mengambil sesuatu, Ia pasti akan memberikan sesuatu yang jauh lebih baik. Jodoh ada di tangan Tuhan, jangan pernah diragukan. Kalau emang jodoh, ya gak akan kemana~

Jangan galau ya, mblo! :)
Makasih yang udah mau baca :/
Selanjutnya gue mau bikin cerbung horror uye!

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 6078 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.