0

Cerbung : Dia (Part 2)

Posted by Unknown on 12.42
"Ri...ricardo.." Panggilku perlahan.

"Heyyy, ayo sini duduk" Aku berjalan perlahan menuju bangku yang tengah dikelilingi bunga dan lilin. Okay..  creepy. Jangan bilang dia mau nyatain perasaannya. Ricardo berdiri lalu menarik bangku dan mempersilahkanku duduk. Kulihat makanan di atas meja bertaplak putih itu tidak seperti yang kami pesan. Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Apakah aku sudah mengatakan bahwa di sana ada band yang akan bermain selama kami makan? Ah.. kuharap dia tidak.. tapi.. ah...

"Nadinee? Jangan bengong gitu dongg. Gimana?" Ricardo melambaikan tangannya ke arah wajahku.

"Uh.. um.. I'm speechless.." Jawabku sambil menundukkan kepala. Ricardo hanya tertawa lalu menengok ke arah band yang akan bermain. Aku mengirimkan pesan kepada Amel. Tak lama kemudian dia membalas "WAHAHAHAHAHAH SIAP SIAP AJA BROO" Urghh Amel, ini semua gara-gara dia.

"Selamat sore semuanya, ada yang ingin me-request lagu? Kami akan menemani anda selama 1 jam ke depan." Ucap sang musisi. Ricardo segera berdiri dan membisikkan sesuatu kepada sang musisi. Sang musisi segera menyerahkan gitarnya lalu turun dari panggung. Apa yang akan kau lakukan Ricardo? Ricardo mengumpulkan anggota band yang lain, serentak mereka mengangguk. 

"ONE TWO THREE FOUR!" Teriak si penabuh drum. Oh tidak tidak tidak, firasatku tidak enak. Ah Amel. Aku segera menelpon Amel guna memberi tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya diam saja membiarkan Amel mendengarkan alunan musik indah yang dihasilkan olehnya.


"Lagu ini gue persembahkan buat Tuan Putri gue, Clarissa Nadine." Mati aku maakk dia mau ngapainn. Lampu mulai meredup.  Dia mengalunkan lagu ciptaannya. Diakhir lagu dia berkata "Clarissa Nadine, gue tau ini terlalu cepat. But.." Damnn jangan dong please. "Will you be mine?" Dia berlutut di hadapanku sembari menyerahkan satu ikat bunga mawar biru yang dibungkus dengan kertas pink dan berpita ungu. Ah.. semua warna kesukaanku. Sorak sorai pengunjung memenuhi ruangan. Aku hanya terdiam, seakan membaca pikiranku dia berkata "Okay, lo bisa jawab pertanyaan gue kapanpun ketika lo siap" Lalu berdiri, kuraih bunganya lalu tersenyum. Lampu kembali menyala.

"Suara gue baguskan?" Ucapnya seakan tidak ingin membahas apa yang baru saja terjadi dan memakan makanannya. AKu pun mulai meraih garpu dan pisau lalu memotong steak di hadapanku.

"Idihh suara jelek kayak gitu dibanggain" Ucapku sembari menyeruput es jeruk. Ricardo memasan wajah seolah-olah akan menangis. "Eeee jangan nangis, baperan amat lo" Ucapku lalu menyuap kembali makananku. Ricaardo tersenyum.


-----

Setelah selesai makan, dan tentu saja dia yang membayar, Ricardo pun menemaniku untuk mencari hadiah. Sementara Amel... entahlah dia kemana. Sepanjang perjalanan kami bercanda dan tertawa, pada saat itulah pertama kalinya aku melupakan Billy. Walaupun hanya sesaat karena aku bertemu dirinya, dengan Alya tentu saja. Tangan Billy merangkul Alya dan tangan satunya lagi membawakan belanjaan Alya. THAT SHOULD BE ME! Mereka bercanda dan tertawa tanpa menghiraukan aku yang memandangi mereka dari kejauhan dan meneteskan air mata.

"eh.. jangan nangisin cowok brengsek itu lagi dong. Dia aja bisa bahagia sama yang lain masa lo engga?" Ricardo berusaha menghiburku namun sayang malah membuat tangisku semakin pecah. Ricardo terpaku untuk sesaat lalu memelukku dengan hangat. "Banyak cowok di luar sana yang jelas jauh lebih baik dari dia" Ucap Ricardo sembari mendekap dan mengecup kepalaku. Seakan bangun dari mimpi buruk aku langsung melepaskan diri dari Ricardo dan menghapus air mata. Bodoh kenapa aku menerima pelukannya. Benar-benar bodoh.

"Gue gapapa kok, gue balik aja ya! Cari kadonya kapan kapan bisa." Ucapku tersenyum lalu melambaikan tangan kepada Ricardo. Ricardo menahan tanganku. 

"Gue anterin ya, please" Dia memasang wajah memelasnya. Tak kuasa aku menolak, namun... ah.. bagaimana ini..

"Gue bisa sendiri kok" Jawabku

"Gak, ayo ikut gue" Ricardo menarik tanganku perlahan menuju parkiran. 

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, kami saling diam. Aku menatap jendela dan memejamkan mata sebentar. Bayangan Billy kembali menghantuiku. Billy oh Billy.

Kubuka mataku dan aku sudah berada di kamar. Aku terperanjat kaget dan melihat jam. Jam 8 malam, aku sudah tertidur sekitar 3 jam. Pertanyaannya, kenapa aku bisa di sini? Urghh pasti Ricardo. Aku segera mandi dan menuruni anak tangga untuk makan cemilan. Terdengar suara Ibuku tengah  tertawa. Ah mungkin ada tamu. Aku tak terlalu menghiraukannya.

Setelah mengambil es krim aku segera menuju ruang keluarga. Ketika aku hampir melewati ruang tamu, ada suara tawa lain yang terdengar familiar. RICARDOO! KENAPA DIA BELUM PULANGGG?!?!??! Aku segera mundur perlahan-lahan.

"BRUKKK" Aku menabrak meja hias di belakang.

"Nadineee? Sini nakkk" Aku terpaku.. 

"Nadinneee?"

"I..iya mom..." Aku berjalan perlahan menuju ruang tamu. Ricardo menyambutku dengan senyumannya. Urghh aku akan memarahi Amel habis-habisan besok. Lagi-lagi, seakan membaca pikiranku Ricardo segera berdiri dan berpamitan.

"Tante, aku pamit yaa. Tante istirahat aja, udah malem hehe. Nadine, gue balik yaa" Dia melambaikan tangannya kepadaku. Aku hanya menunduk sampai akhirnya ibuku menyikut lenganku.

"Eh.. iya bye, hati hati." Kami berdiri di depan pintu hingga mobilnya hilang di kegelapan malam.

"Nak Ricardo baik sekali. Dia yang angkat badan kamu sampai ke kamar lalu menemani mama di sini sampai kamu bangun. Mama setuju kamu sama dia." Aku terpaku sesaat.

"Momm, aku ga jadian sama dia. Well.. emang sih dia udah.,. itu.. tapi, gak aku jawab."

"KENAPA GA KAMU JAWAABB?!?!?!! Sekarang duduk! Ceritain mama hari ini ada apa aja." Aku menghembuslkan napas lalu bercerita panjang lebar. Ibuku tersenyum bahagia lalu berkata "Nak, yang berlalu biarlah berlalu yang sudah ada di depan mata, dijalani saja" lalu meninggalkan aku sendiri.

-----

Malam itu, aku menelpon Amel. Dan menceritakan semuanya disertai amukan.

"Wah gila yaa, cowok se-perfect dia gak lo hiraukan. Lo malah ngejar si lutung kasarung." Balas Amel singkat disertai tawa.

"Yahh, Ricardo emang perfect tapi hati gue masih belom bisa nerima dia seutuhnya. Gue masih mencintai Billy dengan sepenuh hati."

"Alaaaahhh, sok bijak lo. Dah ah gue mau tidur, byeee~~" Amel mengakhiri pembicaraan kami. AKu tidak bisa tidur. LAlu ada sebuah pesan masuk, ternyata dari Ricardo

"Good Night Princess, have a nice dream yaa x" X itu artinya kiss kan.. ah Ricardoo. Aku makin tidak bisa tidur. Aku tidak menghiraukan pesan itu. Kupandangi meja disebelah ranjangku berisi fotoku yang tengah digendong belakang oleh Billy. Air mataku kembali menetes. Semuanya tinggal kenangan dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah bahagia dengan Alya. Tidak ada salahnya bila aku menerim,a Ricardo. Namun, aku tidak mau menjadikan RIcardo sebagai pelarian. Aku ingin menerimanya dengan sepenuh hati.

-----

"Makasih, pakk" Ucapku seraya berjalan menuju gerbang sekolah.

"Iya nonn" Mobil itu segera melaju.

"NADINE NADINE NADINEEEE!!!!!!!" Amel berteriak menghampiriku.

"Apa?" Jawabku ketus.

"Eh, lo kenapa?" Amel memelukku sesaat. Aku hanya terdiam. "Lo harus ke kelas sekarang" Amel menarik tanganku lalu berlari.

"Pelan pelan dongg"

"Gabisaa ini penting!"

Semua orang yang berjalan dari arah kebalikan memandangku. Kami melewati hall, di sana orang-orang mengerubuti papan mading. Ah, mungkin Nilai ulangan IPA sudah dipajang di sana. Amel menaiki tangga dengan terburu-buru.

"Mel, santai mel. Gue ga tidur semaleman, gaada tenaga nih." Amel pun memperlambat langkahnya.

"Tapi.. ini tentang Billy."

"BILLY?!?!?!?" Aku segera berlari menuju kelas.

Banyak siswa mengerubungi pintu kelasku. Ada apa ini...


Jengjenggg.. ada apa hayo~~~
Thanks bagi kalian yang bacaa.
Yang punya ide untuk kelanjutan ceritanya e-mail gue aja yaa dellasavelya24@gmail.com
-DS-

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 6078 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.