0

Cerbung : Dia (Part 1)

Posted by Unknown on 16.18
Hujan kembali membasahi bumi tempat tinggalku. Aku menyandarkan kepalaku ke jendela lalu memasang kembali earphone-ku. Lagi-lagi air mataku menetes. Ah tidak, aku tidak boleh menangisinya lagi. Aku menghapus air mataku yang membasahi pipi.

Seperti biasa, usahaku gagal. Air mataku kembali membasahi pipiku. Kenangan di antara kami begitu indah. Tak kuasa aku melupakannya. Bila tak kulupakan, aku juga terluka. Aku mengambil sapu tangan  lalu mengelap air mataku. Kurindu dia. Apakah dia merindukanku? Kurasa tidak. Dia sudah berbahagia, tentu saja bahagia. Aku adalah pembawa bencana baginya.

"Woy, jangan galau mulu" Amel menegurku sembari tetap memandang jalanan.

"Iya iya tau, tapikan.. yah lo tau sendiri deh" Jawabku sembari melepas earphone dan memandangi Amel. Dia memang cantik. Rambutnya hitam lebat dan ikal. Hidungnya pesek dan kulitnya tidak terlalu putih tidak terlalu hitam. Alisnya tebal seperti orang Arab, bibirnya mungil.

"Bumi memanggil Nadine, Nadine diharapkan menjawab" Lamunanku buyar, "Kenapa ngeliatin gue? Iya gue tau gue cantik tapi gausah segitunya kali."

"Idih, siapa juga yang bilang lo cantik, Itu tadi di kaca ada lalet"

"Banyak kali. Buktinya gua taken tuh sama Syahrul, si kapten tim basket yang didambakan semua jenis cewek normal."

"Gue ga ngidolain dia tuh"

"Ya kan gue bilang cewek normal" Amel terkikik melihatku cemberut.


-----

"Weh miss galau bangun, udah sampe sekolah." Aku membuka mataku perlahan lalu segera merapihkan rambut coklat ku. Setelah itu aku segera menyusul Amel yang sudah bercengkarama dengan Syahrul.

"Maaf ya, masih pagi dimohon jangan pacaran dulu ya" Ucapku sembari melewati mereka berdua.

"Jones gausah sirik ya" Balas Amel. Aku hanya memutar bola mataku lalu melangkahkan kakiku menuju kelas terkutuk.

Baru saja aku melangkah beberapa langkah, kulihat Billy berjalan menuju arah berlawanan. Aduh, aku harus bagaimana. Ah dia tampan sekali, Aduh bagaimana ini.

"Hai Bil" Kuberanikan diriku menyapa

Dia hanya melewatiku seolah aku ini tidak terlihat. Memangnya apa buruknya seorang mantan sih? Menyapa saja tidak dibalas, Bagus.

"Nadine" Suaranya terdengar familiar, aku menengok.

"Have a nice day" Billy melambai sembari melontarkan senyumannya. Ahhhh sungguh menyejukkan melihatnya tersenyum kepadaku.

"NADINEE JANGAN NGELAMUN MULUUU" Amel menggoyang-goyangkan tubuhku. Nampaknya tadi itu hanyalah hayalanku saja. Yaa, mau diapakan lagi. It's over....

"Sorry sorry, masa tadi gue nyapa Billy, eh gue dikacangin."

"Inget, lo itu M-A-N-T-A-N"

"Iya gue tau, tapikan..."

"Yaudah bagus kalo lo tau. Sekarang, lo harus move on sebelum lo makin tersakiti. Okay?"

"Okay....... "

Begitulah Amel, dia gak suka bila melihatku seperti itu. Memang ada benarnya sih, aku harus move on. Memang tidak akan mudah namun akan ku coba. Memang seharusnya aku tidak jatuh dalam genggamannya.

-----

"KRRIIIIIIINGGG"

"Yatuhan, akhirnya pulang juga. Laper nih gue, cabut yuk?" Amel mengambil tasnya lalu berdiri. "EBUSETTTTT GALAU MULU TONG!" Dia meneriakiku yang tengah memandang Billy dari jendela.

"Eh... uh... sorry, Yaudah yuk makan, sekalian temenin gue nyari kado ya buat nyokap gue." Jawabku gelagapan.

"Nah gitu donggg, coba mana senyumnya Amel mau liat" Aku tersenyum simpul. "Ahh jelek, senyumnya yang tulus dong. Udah jelek makin jelek." Aku lalu tersenyum lebar. "Nahh gitu dongg"

"Manis juga" Aku dan Amel menengok ke belakang bersamaan. Dia adalah Ricardo. Cowok multitalenta yang diyakini gak suka lagi sama makhluk bernama "Cewek" semenjak putus cinta beberapa tahun lalu. Ricardo lalu melenggang meninggalkan kelas sambil bersiul.

"GILA GILA GILAAAA!! LO TAU KAN RICARDO ITU ORANGNYA GIMANA? GILA GILA GILAA!!!" Amel heboh sendiri

"Iya gue tau.." Jawabku lemas.

"Banyak loh cewek yang udah deketin dia tapi ditolak mentah-mentah. Lumayan tuh gilaaa, cakep pula anaknya."

"Ah.. gimana yaa.."

"Ih seriusan, dijamin lo gabakalan nyesel deh!"

"Tapi kan guee..."

"SSSSSSSSSSTTTTTTTT! Gausah banyak cincong deh lo! Siapa coba yang bisa nolak cowok se-perfect dia?"

"Gue" Jawabku ketus lalu meninggalkan Amel di kelas. Amel terpaku selama beberapa saat. Lalu mengejarku.

"So, mau makan di mana? Mall biasa aja gimana?" Ucapnya seolah tidak tejadi apa-apa

"Yaudah"

Yahhh, Ricardo memang benar-benar lelaki idaman. Tapi untuk saat ini, hatiku masih untuk Billy.

-----

"Kita makan di sini aja yaa. FREE WIFI BROOO!" Ajak Amel antusias, aku hanya menganggukkan kepala.

"Nadine?" Aku menengok.

"Apa" Sahutku ketus.

"Lo ngapain?"

"Makan lah"

"Gue,, hm.."

"Udahlah, gapapa" Jawabku meninggalkan wanita itu sendirian. Dulunya, dia adalah sahabatku, Alya. Hubungan kami merenggang karena dia penyebab putusnya hubunganku dengan Billy. Aku tidak kesal dengannya. Hanya saja... kalian mengerti bukan?

"Eh.. itukan.."

"Iya gue tau." Potongku. "Yaudah gece pesen. Gue laper."

"Sabar sayangkuuu, mejanya penuh nih"

"Yaudah ayo pergi" Aku menarik tangan Amel menuju pintu.

-----

Aku memainkan gadgetku lalu mengecek akun akun berisi hal-hal berbau galau. Tanpa kusadari Amel sudah berhenti sejak tadi.

"BRUKKK" aku menabrak seseorang.

"Eh, sorry.. gue ga sengaja"

"Hahaha, gapapaaa. Lo di sini juga toh." Aku tersentak mendengar suara yang tak asing lagi.

"Eh,, Ricardo.. lo.. ngapain di sini?" Tanyaku bingung

"Yaaa, gue mau makan. Lo udah makan?"

"Belom, ini lagi mau nyari makan sama Amel."

"Amel? Manaa?" Dia mencari-cari sosok Amel

"Itu ada di....." SIAAAAALLLLLLL!! Amel pasti meninggalkan aku sendiri. Haduhhhh Ameelll.

"Yaudah, yuk makan sama gue aja?" Dia mengajakku makan. Ah Amel, kau membuatku terjebak di situasi ini.

"Sorry tapi.."

"Eitss, gue ga terima penolakan. Udah ayoooo" Dia mendorong bahuku perlahan.

-----

"Nasi gorengnya satu ya, mbak. Lo mau apa?" Ricardo memandangku dari balik menu.

"Samain aja"

"Okay, make it two. Minumnya?"

"Es jeruk aja"

"Es jeruk dua, mbakk" Pelayan tersebut meninggalkan kami. Selama beberapa menit kami tidak saling berbincang. Hingga nada deringku memecahkan keheningan.

"Bentar ya" Ucapku berlari menuju kamar mandi.

"WOYYYY TEGA BANGET YE LO NINGGALIN GUE!" Makiku pada Amel

"Hahahaha sorryyy, nanti juga lo berterima kasih sama gue" Amel terkikik.

"Lo di mana?"

"ADADEEEHH TAR LO NYUSUL HAHA. Tenangg, ada Syahrul di sini. Gausah takut gue kesepian."

"IDIWWW! Ngapain juga gue peduli sama lo. Jahat ya lo sama guee."

"Yaudah ah gue sibukkk. Selamat bermesraan, Nadinee! Kabarin gue yaa kalo lo ditembak"

"EHHH"Amel telah memutuskan tlp kami. Ah Amel.. Aku kembali dari toilet. Ricardo masih ada di sana, hanya saja.....

Bersambung~~

Hai kalian yang baca, thanks yaaa. Doain aja ide gue munculnya cepett
-DS-

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 6078 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.