1

Ngelindes anak kecil

Posted by Unknown on 05.24
Well, ini cuma sebagai selingan aja sih.

Jadi waktu itu, gue dan beberapa temen gue baru pulang dari mall di daerah Alam Sutera. Kebetulan, Papa gue bisa jemput. So.. yeaaa... why not? daripada naik angjot trus digodain cangcimen.

Di perjalanan waktu mau nganter salah satu temen gue ke rumah (di daerah Bintaro) ada segerombolan bocah baru pulang berenang. Mereka jalanya rada ketengah gitu, yaa papa gue gabisa lewat dong? Jadi, doi melakukan hal yang sepatutnya dilakukan.

"TIIINNNN TIIIIIINNNN" Trus bocah bocahnya nengok trus minggir. Setelah melewati seorang bocah gembul, gue sadar dia nangis. Tapi papa gue enggak. Gue ga tenang karena bocah itu tetep nangis. Sepanjang jalan, orang orang ngeliat ke arah mobil gue. Kemungkinan kemungkina terburuk udah muncul di kepala gue.

Akhirnya, ada motor nempelin mobil gue trus ngetok kaca dan ngasih isyarat buat ke berhenti karena itu bocah nangis. Papa gue trus minggir, trus turun. Gue makin deg degan lahya, trus gue kunci semua pintu karena takut.

Beberapa menit kemudian doi kembali.
Del : Kenapa pa?
Pa : Gapapa
Del : Lah itu kenapa nangis?
Pa : Gapapa, pas papa klakson dia kaget trus sendalnya ketinggalan. Sendalnya kelindes deh, trus dia nangis.

Gimana sih perasaan lo kalo jadi gue? Udah parno gitu, takut kenapa kenapa. KAAGA TAUNYA GARA GARA SENDAL DOANG :"

0

Riddle : Rumah Kaca

Posted by Unknown on 21.42
Berhubung pelajaran fisika gue lagi belajar tentang cermin, gue mendapat ide buat riddle ini. . . . Menurut gue, ini masih terbilang gampang kok riddlenya.

Versi 1 :

Hari itu, aku dan kawanku, Brandon, pergi ke sebuah taman hiburan di pinggiran kota. Kabarnya, rumah kaca di taman hiburan itu sangat sukar untuk dilewati. Bahkan dikabarkan bahwa ada yang meninggal karena tidak bisa keluar. Menakutkan bukan? Pihak kepolisian sudah menutup rumah kaca itu. Namun, aku dan Gisela tetap berniat untuk melewatinya di malam hari (tentu saja, agar tidak tertangkap)

Setelah mengendarai sepeda motor tua milikku, kami tiba di taman itu sekitar pukul 11 malam. Udara dingin menyapu badan kami yang telah terlindungi oleh jaket. Kami menerobos gerbang utama dengan memanjatnya. Cukup mudah, bahkan sangat mudah. Penjagaan di sini tidak terlalu ketat, karena tidak ada yang menarik. Selain, yaa tentu saja rumah kaca itu.

Kami berjalan perlahan lahan agar tidak terdengar oleh siapapun. Tinggal belok kanan, dan kami akan tiba di bagian belakang rumah kaca itu. Baru saja kami melongokkan kepala kami sedikit, ternyata banyak orang yang sudah berada di sana lebih dulu dari kami. Baru kali ini kami terlambat. Kamipun segera bergegas berlari ke dalam rumah kaca itu dan berusaha mengingat jalan-jalan yang pernah kami lewati.

----

Versi 2 :

Aku berusaha mencari jalan keluar dari rumah kaca terkutuk ini. Beragam macam cermin telah kulewati, hingga tibalah aku di bagian cermin cembung. Aku terdiam sejenak, ku atur nafasku, lalu aku melihat sekeliling untuk mencari jalan keluar. Kuperhatikan bayanganku, yang tampak lebih dekat. Aku tidak mempedulikannya hingga penglihatanku menghilang dan semuanya menjadi gelap.



Gampang kan?
Coba yuk jawab di komentar atau mau lewat e-mail juga gapapa.
See ya!

0

GO-JEK

Posted by Unknown on 16.49
Haii!!!
Oke bagi yang ngikutin perkembangan blog gue pasti tau kan kalo gue mau bikin cerita ttg horror. Well, on progress kok. 
Sementara itu gue mau ceritain pengalaman gue tentang Go-jek.

Jadi, Waktu itu gue lagi di rumah temen gue, si princess, bersama dengan si buncis, umi, rendang, xx, nope dan eya. Gaada yang spesial sih, sampe akhirnya si Umi mau balik dan doi lebih memilih go-jek dibanding si dia  abang ojek biasa. Yaudahkantuh, ada gue, xx, serta eya yang punya aplikasi go-jek. Gue sih masih fokus kan ke film dan si xx menawarkan untuk mesenin go-jek. Eh. ternyata lemot banget, yaudah akhirnya si eya deh yang mesenin. Eh sama aja, lemot juga. Yaa.. gue kan sebagai temen gabisa tinggal diem. Gue pesenin deh tuh. Lalu gue ditelpon abang gojek kan asikdah ada yg tlp. Si abang nyari nyari alamat tapi ga ketemu, ternyata gue salah masukin nomor rumah si princess. Tapi pada akhirnya, Umi pun pulang dengan selamat.

0

Cerbung : Dia (Part 3)

Posted by Unknown on 18.46
"Ada apaan sih?" Mendengarku suaraku, mereka semua menengok ke arahku lalu membuka jalan. Semakin aneh. Kulangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Di sana terdapat Billy tengah berlutut, memegang sebuket bunga dengan papan tulis yang telah dihias olehnya dan bertuliskan "I love you Nadine" Aku terpaku. Benar benar terpaku.

"Nadine" Panggilnya lembut. Aku hanya menunduk, menahan malu dan detak jantungku berdebar sangat cepat.

"Can you.. give me one more chance?" Dia mengangkat daguku. Sesaat aku menatap matanya yang berwarna coklat muda itu. Lalu aku memalingkan wajah. Nampaknya, seluruh siswa di sini tengah memandangi kami. Entah mengapa mataku tidak menemukan sosok Ricardo di tengah kerumunan itu.

"Nadine..? I need your answer." Aku masih mematung. Lalu kulihat Ricardo menerobos kerumunan dengan membawa sebuah kotak. Melihat kami sangat dekat, matanya terbelalak.

"Sorry ganggu" Ucapnya sembari pergi meninggalkan kami. Entah apa yang aku pikirkan, aku berlari mengejarnya. Billy mengikutiku dari belakang.

"Nadine!" Billy berteriak - teriak memanggil namaku, namun tak kuhiraukan sama sekali. Hingga akhirnya. mataku berkunang kunang dan kesadaranku mulai hilang. "NADINEE!" Mereka berdua berteriak memanggil namaku, itu hal terakhir yang aku dengar.


0

Cerbung : Dia (Part 2)

Posted by Unknown on 12.42
"Ri...ricardo.." Panggilku perlahan.

"Heyyy, ayo sini duduk" Aku berjalan perlahan menuju bangku yang tengah dikelilingi bunga dan lilin. Okay..  creepy. Jangan bilang dia mau nyatain perasaannya. Ricardo berdiri lalu menarik bangku dan mempersilahkanku duduk. Kulihat makanan di atas meja bertaplak putih itu tidak seperti yang kami pesan. Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Apakah aku sudah mengatakan bahwa di sana ada band yang akan bermain selama kami makan? Ah.. kuharap dia tidak.. tapi.. ah...

"Nadinee? Jangan bengong gitu dongg. Gimana?" Ricardo melambaikan tangannya ke arah wajahku.

"Uh.. um.. I'm speechless.." Jawabku sambil menundukkan kepala. Ricardo hanya tertawa lalu menengok ke arah band yang akan bermain. Aku mengirimkan pesan kepada Amel. Tak lama kemudian dia membalas "WAHAHAHAHAHAH SIAP SIAP AJA BROO" Urghh Amel, ini semua gara-gara dia.

"Selamat sore semuanya, ada yang ingin me-request lagu? Kami akan menemani anda selama 1 jam ke depan." Ucap sang musisi. Ricardo segera berdiri dan membisikkan sesuatu kepada sang musisi. Sang musisi segera menyerahkan gitarnya lalu turun dari panggung. Apa yang akan kau lakukan Ricardo? Ricardo mengumpulkan anggota band yang lain, serentak mereka mengangguk. 

"ONE TWO THREE FOUR!" Teriak si penabuh drum. Oh tidak tidak tidak, firasatku tidak enak. Ah Amel. Aku segera menelpon Amel guna memberi tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya diam saja membiarkan Amel mendengarkan alunan musik indah yang dihasilkan olehnya.


0

Cerbung : Dia (Part 1)

Posted by Unknown on 16.18
Hujan kembali membasahi bumi tempat tinggalku. Aku menyandarkan kepalaku ke jendela lalu memasang kembali earphone-ku. Lagi-lagi air mataku menetes. Ah tidak, aku tidak boleh menangisinya lagi. Aku menghapus air mataku yang membasahi pipi.

Seperti biasa, usahaku gagal. Air mataku kembali membasahi pipiku. Kenangan di antara kami begitu indah. Tak kuasa aku melupakannya. Bila tak kulupakan, aku juga terluka. Aku mengambil sapu tangan  lalu mengelap air mataku. Kurindu dia. Apakah dia merindukanku? Kurasa tidak. Dia sudah berbahagia, tentu saja bahagia. Aku adalah pembawa bencana baginya.

"Woy, jangan galau mulu" Amel menegurku sembari tetap memandang jalanan.

"Iya iya tau, tapikan.. yah lo tau sendiri deh" Jawabku sembari melepas earphone dan memandangi Amel. Dia memang cantik. Rambutnya hitam lebat dan ikal. Hidungnya pesek dan kulitnya tidak terlalu putih tidak terlalu hitam. Alisnya tebal seperti orang Arab, bibirnya mungil.

"Bumi memanggil Nadine, Nadine diharapkan menjawab" Lamunanku buyar, "Kenapa ngeliatin gue? Iya gue tau gue cantik tapi gausah segitunya kali."

"Idih, siapa juga yang bilang lo cantik, Itu tadi di kaca ada lalet"

"Banyak kali. Buktinya gua taken tuh sama Syahrul, si kapten tim basket yang didambakan semua jenis cewek normal."

"Gue ga ngidolain dia tuh"

"Ya kan gue bilang cewek normal" Amel terkikik melihatku cemberut.



0

PIlihan (Cerpen)

Posted by Unknown on 16.49
Sekali lagi kuhembuskan nafasku. Kenapa hal-hal buruk kerap menimpaku? Setelah semalaman mendengar orang tuaku bertengkar hebat, aku bangun kesiangan, mobilku mogok, sekarang aku lupamembawa tugasku. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku ketika dimarahi Bu Mega.

“Sekarang, cepat keluar kelas!” Bu Mega membentakku lagi.

Urgh. Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju pintu kelas.

“Huh! Kejam! Lihat, tanduk merahnya mulai keluar dari kepala besarnya itu.” Ucapku

“EHEM!”

“Iya bu, ampun bu, maaf bu, aduh bu, jangan bu.” Ucapku sembari membuka mata perlahan.

“Elah, ngagetin aja”

“Hahahahaha lucu juga kalo gitu”

Dia adalah sahabat karibku, raven. Yah, memang terkadang dia menyebalkan. Dan jahil. Dan nakal, tapi dialah yang selalu menemaniku. Dan jangan lupakan otaknya yang sudah tercemarnya itu. Urgh.


Copyright © 2009 6078 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.