0

PIlihan (Cerpen)

Posted by Unknown on 16.49
Sekali lagi kuhembuskan nafasku. Kenapa hal-hal buruk kerap menimpaku? Setelah semalaman mendengar orang tuaku bertengkar hebat, aku bangun kesiangan, mobilku mogok, sekarang aku lupamembawa tugasku. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku ketika dimarahi Bu Mega.

“Sekarang, cepat keluar kelas!” Bu Mega membentakku lagi.

Urgh. Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju pintu kelas.

“Huh! Kejam! Lihat, tanduk merahnya mulai keluar dari kepala besarnya itu.” Ucapku

“EHEM!”

“Iya bu, ampun bu, maaf bu, aduh bu, jangan bu.” Ucapku sembari membuka mata perlahan.

“Elah, ngagetin aja”

“Hahahahaha lucu juga kalo gitu”

Dia adalah sahabat karibku, raven. Yah, memang terkadang dia menyebalkan. Dan jahil. Dan nakal, tapi dialah yang selalu menemaniku. Dan jangan lupakan otaknya yang sudah tercemarnya itu. Urgh.


“Kita ketemu lagi di sini”

“Yayaya” Moodku benar benar tidak baik saat itu.

“Ikut gue sini.” Dia menarik tanganku. Aku berusaha melepaskan diri namun tentu saja tenaganya lebih kuat daripada tenagaku. Kita berlari keluar sekolah. Kemudian sampailah kita di gerbang belakang sekolah. Kami menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap keluar.

Dengan cekatan dia segera memanjat pagar itu. Aku terdiam. Rokku ini panjang, bagaimana caranya aku memanjat? Raven lalu mengutak atik isi tasnya dan melemparkan gunting.


“Eh gila! Lo mau gue mati?!?! Untung kaga kena, kalo kena gua gentayangin seumur idup lo!” Hampir saja kepalaku tertusuk gunting.

“Yaudah maap, udah buruan.”

Tanpa diaba-abakan aku segera menggunting rok-ku hingga selutut. Aku lalu segera memanjat dan berlari bersama Raven. Kudorong tubuhnya ke samping, dia terjatuh.

“Aduhh, pinter banget lo”

Aku menjulurkan tanganku guna membantunya berdiri. Namun dia malah menarik tanganku dan berlari meninggalkanku sambil tertawa terbahak-bahak. Urghhh lihat saja.Aku segera berlari sekuat tenaga guna mengejarnya lalu menepuk punggungnya. Aku sangat lelah.

“Cupu, gitu doang capek.”

Aku tak menghiraukan raven yang terus mengejekku.

“Ayla”

“Ayla”

NAmpaknya ada yang memanggilku. Siapa ya?

“AYLAAAAAAAAA!” Aku menengokkan kepalaku. Gawat. Orang itu. Aku segera melarikan diri meninggalkan raven. Entah kemana aku harus pergi. Aku tak mungkin ke rumah, orang tuaku membuatku gila! Sekolah? Yang benar saja. Kurasa aku akan ke sungai lalu bermain air.
Setelah beberapa menit berlari, akhirnya aku sampai. Aku lalu melepas sepatu dan kaos kakiku lalu mencelupkan kakiku ke sungai. Ahh, sejuknyaaa. Aku berbaring di pinggiran sungai sambil kakiku tetap kurendam. Penglihatanku mulai kabur. Mataku terpejam perlahan-lahan.

“Ayla, pulanglah ayla. Ayo pulang!” Ah lihat, siapa itu. Itu adalah orang yang tadi kuhindari. Sebut saja Angel. Dia suka sekali menyuruhku.’Lakukan pekerjaan rumah’ ‘Belajar’ ‘Menyapu sana’’berdoalah’ dan sejenisnya. Memangnya siapa dia.

“TIDAK!” Bentakku

“Ibumu pasti sudah menunggu di rumah.”

“Biarlah.”

Angel kembali membuka mulutnya namun Raven segera mencela.

“Eh, lo denger kan dia gamau pulang? Udah sana”

Angel mengepalkan tangannya. Mereka sepertinya sudah bermusuhan sejak lama. Angel meninggalkanku dan Raven di sana. Aku tersenyum melihat Raven. Aku menepuk nepuk rumput disebelahku sebagai isyarat agar Raven duduk. Raven duduk di sebelahku dan melepas sepatunya. Kami memandang langit yang penuh bintang hingga aku tertidur di sisinya. Aku bangun karena dibangunkan Angel. URGHHHH! Selalu saja dia mengikutiku. Ada apasih memangnya.

“Kau harus sekolah. Setelah itu pulanglah ke rumah, orang tuamu mencemaskanmu.”

“Lucu mendengar mereka masih peduli denganku.” AKu memakai sepatuku lalu meninggalkan Angel yang menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Sementara raven merangkulku. Taklama perutku berbunyi. AKu lapar, aku belum makan. Aku merogoh kantong rokku. HILANG! UANGKU HILANG! URGHHH SIAL SEKALI AKU!

“Bro, nyolong duit aja yuk. Gue juga laper.” Raven tersenyum penuh arti.

“Ide bagus.. tapi..”

Aku berpikir sejenak. Kalau aku ditangkap bagaimana? Ah siapa peduli, lagipula tidak ada yang mencegahku. Selain Angel tentunya.

“JANGAN NYURIIIII!DOSA!” Angel berlari sekuat tenaga mengejar kami. Melihatnya mengejar kami, kamipun berlari sekuat tenaga.

Raven tersenyum penuh kemenangan, dia segera menuntunku menuju halte bus. Tempat yang padat, dan bila mencuri ada kemungkinan tidak ketahuan. Ide brilian. Aku segera mencari mangsa. Setelah menemukan salah satunya. Aku berjalan dan mendekatinya. Ketika dia lengah aku merogoh kantongnya dan berjalan dengan perlahan.

Namun, dia tersadar. Dia merogoh kantongnya dan menengok ke kanan ke kiri. “MALIINGGGG!! KEJAR TUH CEWEE!” Orang orang berlari mengejarku. Entah di mana Raven, yang bisa kulakukan adalah berlari sekuat tenaga. Beberapa ornag muncul dari depanku. Aku berputar, namun mereka terlalu dekat. Aku segera mencari celah dan berlari. Hingga akhirnya aku benar benar terkepung. Mereka memukuliku dengan kejam, meludahiku, beberapa dari mereka menginjak injakku. Mulut dan hidungku mulai mengeluarkan darah. Kesadaranku pun mulai hilang. Kulihat mereka pergi meninggalkan ku. Dan akhirnya aku terbaring tak berdaya.














Amanat :
Angel diibaratkan malaikat yang menuntun kita untuk menjadi lebih baik dan menghindari Raven sebagai setan yang kerap menggoda kita melakukan hal hal menyenangkan namun tercela. Pilihan ada di tangan kita untuk mengikuti Angel atau Raven,  dan tentu saja bila mengikuti Raven akhir yang didapatkan tidak akan bahagia.

Cerpen by : Della Savelya


0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 6078 All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.